KAMEN RIDER QI Episode 3: Monster Capit Besi

Kategori: Copywriting by Ahmad Mustopa | Penulis: Administrator | 01 Jun 2026

KAMEN RIDER QI  Episode 3: Monster Capit Besi

“Boraaaaax”

"Hahaha! Hancurkan semuanya!" raung Monster Borax.

Tak jauh dari sana, Karman menatap Monster itu dengan pandangan kesal. 

“Aduh... Ada-ada aja.”

Monster Borax menghantam pohon hingga roboh.

Karman mengepalkan tangan.

“Aku harus bertarung!”

Ia menyentuh Qi Driver di pinggangnya.

“QI... Berubah!”

Kilatan cahaya kuning menyelimuti tubuhnya.

Armor emas dan hitam muncul.

Topeng berbentuk lebah menutupi wajahnya.

"KAMEN RIDER QI!

Kamen Rider Qi kini berhadapan dengan Pertarungan Capit Besi Monster Borax yang tertawa melihat Rider Qi. 

“Jadi kau manusia yang mengalahkan pasukan Marlon kemarin?”

"Aku bukan manusia biasa lagi!" jawab Qi.

Qi langsung melompat dan melancarkan tendangan.

“BUUK!”

Namun Monster Borax hanya bergeser sedikit.

“Hah?”

Qi kembali menghajar dengan pukulan beruntun.

DUK! DUK! DUK! DUK!

Tetapi cangkang monster itu terlalu keras.

"Percuma!" ejek Borax.

Ia mengayunkan capit besinya.

BRAAAK!

Qi terpental dan berguling beberapa meter.

“Sial... keras banget kulitnya!”

Monster Borax menyerbu lagi.

Qi mencoba menahan serangan.

Namun setiap pukulan terasa seperti memukul tembok baja.

“Aku tidak bisa menembus pertahanannya!”

"Gunakan Pedang Madu! Ambil dari sabukmu!" Ada suara Zedi di telinga Kamen Rider Qi. 

Tiba-tiba sabuk Qi Driver bercahaya.

Sebuah suara terdengar.

"Honey Sword Ready!" Teriak Rider Qi. 

Dari bagian samping sabuk keluar sebuah pedang berwarna emas yang bercahaya seperti kilau madu. 

"Jah curang, maennya pake senjata!" Monster Borax tertawa.

"Tapi apa Senjata mainan bisa melukaiku!" Borax mencibir sambil memainkan tangan capitnya. 

Qi tersenyum.

“Kita lihat saja.”

Monster itu menyerang.

Qi melompat menghindar.

Lalu mengayunkan pedangnya.

SWIIING!

Cahaya kuning memanjang.

CRAAK!

Untuk pertama kalinya cangkang Borax retak.

“Apa?!”

Qi kembali menyerang.

SWISH! SWISH! SWISH!

Retakan semakin banyak.

Borax mulai panik.

“Tidak mungkin!”

Qi mengangkat pedangnya ke langit.

Cahaya madu memenuhi bilah pedang.

“HONEY SLASH!”

Qi melesat cepat.

ZRAAAASH!

Monster Borax terbelah oleh energi kuning.

Tubuhnya bergetar.

“Tidaaaakkkk!!”

BOOOOOOM!

Monster Borax meledak menjadi cahaya.

Namun ledakan itu menciptakan gelombang energi besar.

Qi hampir terjatuh dari tebing kecil.

“Aaah!”

Tiba-tiba dari punggung armornya muncul sepasang sayap bercahaya.

FWOOOSH!

Qi terangkat ke udara.

“Hah?!”

Ia mengepakkan sayapnya.

Dan…

Ia terbang!

“WOOOAAAH! Aku bisa terbang?!”

Qi berputar-putar di langit seperti anak kecil yang baru mendapat sepeda.

“Ini keren banget!”

Dari kejauhan beberapa warga melihat.

“Itu manusia lebah bisa terbang!”

Qi tersenyum di balik topengnya.

“Terima kasih, Zedi.”

-----------------------

Pesawat Induk Jenderal Zodar

Jauh di luar angkasa.

Di dalam pesawat induk raksasa milik Kerajaan Marlon.

Jenderal Zodar menghantam kursi singgasananya.

BRAAAK!

“Aku muak dengan kegagalan ini!”

Para prajurit gemetar.

“Monster Borax telah kalah, Jenderal.”

“Tentu aku tahu dia kalah!”

Zodar berdiri.

Mata merahnya menyala.

“Kita membutuhkan monster yang lebih kuat!”

“Lalu apa perintah Anda?”

Zodar menyeringai.

“Carilah manusia yang hatinya dipenuhi keserakahan, kemarahan, dan kejahatan.”

“Semakin buruk sifatnya, semakin kuat monster yang akan tercipta.”

Pasukan Marlon memberi hormat.

“Siap, Jenderal!”

-----------------------

Di sebuah pinggir jalan.

Seorang pedagang es teh sedang melayani pembeli.

Tiba-tiba datang seorang pria berbadan besar memakai seragam ormas.

Namanya…

Memet.

Memet tersenyum lebar.

"Uang keamanan!" Memet menadahkan tangan. 

Pedagang tampak gugup.

"Eh... siang Bang Memet." Pedagang es ulurkan tangan menyalami tangan Memet yang menadah. 

"Gua dateng bukan untuk silaturahmi." Memet menepis tangan pedangan es itu. 

“Mana uang keamanan!”

Senyum pedagang langsung hilang.

“Bang, minggu lalu kan sudah.”

“Loe mau aman seminggu sekali apa setiap hari?”

“Ya setiap hari bang.”

“Ya udah bayar uang keamanan setiap hari lah!”

Pedagang garuk kepala.

"Ini bang." Pedagang berikan selembar uang duan ribuan. 

“Loe ngeledek? Dua ribu! Emang gua anak loe! Dikasih jajan dua ribu!”

“Berapa Bang?”

“Goceng!”

"Goceng itu berapa?" Wajah pedangan es memelas. 

“Goceng itu sepuluh ribu!”

“Bukannya lima ribu bang?”

"Udah tau pake nanya! Gua kepret loe!" Memet siapkan tangan untuk menampar. 

Tiba-tiba langit menjadi gelap.

Beberapa pesawat kecil Marlon turun.

“Wussshhh!”

Memet melihat ke atas.

“Loh, UFO?”

Sinar merah turun.

ZZZZZZT!

“Aaaaaaaa! Tolooong!”

Tubuh Memet terangkat ke udara.

Pedagang es teh melongo.

"Alhamdulillah... Ditolong Alien." Pedangan es usap wajahnya dengan kedua tangannya. 

Bersambung…