Kapal Induk Jenderal Zodar
Di dalam laboratorium milik Kerajaan Marlon.
Memet terbangun di atas meja besi raksasa.
“Kepala gua kenapa sakit banget?”
Ia menyentuh kepalanya.
"Loh?! Kamu siapa? Kospley jadi manusia semut ya?" Memet menatap Jenderal Zodar yang berdiri di dekatnya.
“Manusia ini benar-benar menyebalkan.”
Memet menoleh.
“Oh, Bos Alien.”
“Aku bukan Alien! Kalian yang Alien!”
“Saya Manusia! Kalian Alien! Kok malah dibalik sih?”
“Itu menurut sudut pandang kalian!”
Zodar mulai emosi, tampak ia mendengus kesal.
“Kau kami pilih untuk menjadi monster terkuat!”
Memet kerutkan dahi.
“Lah seenak-enaknya mau ngerubah orang jadi Monster. Ogah lah!”
Zodar tersenyum.
“Kamu tidak punya pilihan!”
"Saya juga tidak suka pilihan, kemaren milih nomer dua eh Zonk." Memet nyengir.
Senyum Zodar langsung hilang.
“Itu mah pilihan Pemilu!”
"AAAAARRRGH!" Zodar tampak sangat kesal.
"WIIIIIUUUUT! WIIIIIUUUUT!" Suara Alarm berbunyi.
Seorang prajurit berlari masuk.
“Jenderal! Putri Zizaz telah tiba!”
Wajah Zodar langsung berubah serius.
“Putri Zizaz?”
Pintu utama terbuka.
Masuklah seorang wanita bangsawan Marlon yang mengenakan armor merah menyala.
Wajahnya tampak seperti semut.
Matanya berwarna biru terang dengan dua antena panjang dikepala.
Ia berjalan dengan anggun.
Namanya…
Putri Zizaz.
Anak dari Kaisar Agung Marlon.
Zodar langsung berlutut.
“Yang Mulia.”
Zizaz tersenyum tipis.
“Ayahku menganggap seranganmu terlalu lambat.”
Zodar menunduk.
“Maafkan saya.”
“Aku datang untuk membantu.”
Memet mengangkat tangan.
“Permisi.”
Zizaz menoleh.
“Ya?”
"Kamu putri? Berati perempuan ya? Tapi kok dadanya ga nonjol sih?" Memet nyengir.
Zodar langsung berteriak.
"DIAM KAU!!" Sambil menarik bibir Memet dengan jarinya, hingga mulut Memet melar bagai paruh burung Beo.
---------------------------------
Sementara itu…
Karman sedang menaruh botol Madu di sarang lebah yang ia dapat kemarin.
Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
Dua orang turun mengenakan seragam bertuliskan:
PT. MWH.
"Asalamualaikum." Seorang pria turun dari mobil minibus itu.
"Walaikumsalam." Karman menghampiri.
"Kayanya itu madu yang bagus." Tanya lelaki itu.
Karman mengangguk.
“Alhamdulillah.”
Pria itu kemudian menunjukkan beberapa botol madu yang ia ambil dari mobilnya.
"Masalah kami sekarang adalah madu palsu." Ujar Pria itu sambil memperlihatkan Madu dalam botol kaca itu.
Karman tampak serius.
“Apa itu Madu palsu?”
Pria itu mengangguk.
“Bahkan banyak masyarakat tidak bisa membedakan madu asli dan palsu.”
“Itu bahaya?”
"Betul. Karna itu kami ingin menjual madu asli dengan harga yang lebih terjangkau." Ujar pria itu serius.
Karman tersenyum.
“Supaya masyarakat tidak tergoda membeli madu palsu.”
“Tepat sekali.”
Pria itu melanjutkan.
“Kalau madu asli mudah didapat dan harganya masuk akal, pemalsu akan semakin sulit mencari pembeli.”
Karman mengangguk setuju.
“Itu tujuan yang bagus.”
"Rakyat kita seharusnya bisa menikmati kekayaan alamnya yang sangat bermanfaat, seperti Madu asli. Dan mudah-mudahan PT. MWH bisa menjembatani itu lewat MaduQi.
Mereka terus berbincang mengenai kualitas madu, peternakan lebah, dan pentingnya menjaga kepercayaan konsumen.
-------------------
Tiba-tiba langit menjadi gelap.
Angin berhembus kencang.
“WUUUUUSSHHH!”
Semua orang menoleh ke atas.
“Apa itu?”
Sebuah titik hijau jatuh dari langit.
Semakin lama semakin besar.
“AAAAAAA!!!”
DUAAAARRR!
Tanah bergetar saat sosok itu mendarat.
Debu mengepul ke segala arah.
Dari dalam asap muncul sesosok monster bertubuh hijau.
Matanya merah besar.
Mulutnya menyerupai lalat.
Sepasang sayap transparan mengepak di punggungnya.
Monster itu tertawa.
“Hihihihihi!”
Karman langsung mengenali energi Marlon.
“Monster lagi?”
Monster itu menunjuk ke arah pedagang es.
“Mana uang keamanan?!”
Pedagang es bingung.
“Hah?”
“Bayar sekarang juga!”
Pedagang es ketakutan.
“Lah, Monster minta uang keamanan?”
Monster itu tampak marah.
“Dasar pelit!”
Pedangan es terlihat mengernyit.
“Monster ini kenapa sih?”
Monster itu menunjuk dirinya sendiri.
“Gua Memet!”
Pedangan es terkejut.
“Memet?!”
“Betul!”
“Lho kok jadi lalat, mana ijo lagi?”
“Gua juga bingung!”
Monster Lalat Ijo lalu tertawa keras.
“Hihihihihi!”
Sayapnya mengepak.
FWOOOOOSH!
Ia melesat ke udara dan menghancurkan sebuah menara air.
BRAAAAK! Warga berteriak panik.
Karman mengepalkan tangan.
“Kalau begini...”
Ia menyentuh Qi Driver.
“QI... BERUBAH!”
Kilatan cahaya kuning mulai menyelimuti tubuhnya.
Dan pertarungan baru pun akan dimulai…
Bersambung…