KAMEN RIDER QI Episode 5: Pertempuran di Langit!

Kategori: Copywriting by Ahmad Mustopa | Penulis: Administrator | 07 Jun 2026

KAMEN RIDER QI  Episode 5: Pertempuran di Langit!

Memet mengamuk di pasar.

Lapak sayur beterbangan.

Keranjang cabai dan tomat berhamburan ke mana-mana.

"Bayar uang keamanan! Bayaaaar!" teriak Monster Lalat Ijo.

“Woooy! Laler ijo! Sini kalau berani!”

Karman yang telah berubah menjadi Kamen Rider Qi melayang tepat di atas kepala Memet.

“Lah ada Monster tawon.”

"Gua bukan monster kayak loe! Gua Kamen Rider Qi!" Qi membuat kuda-kuda di udara.

“Lah apa bedanya? Kalau gitu gua juga Kamen Rider Lalat Hijau!”

Memet menirukan gaya Qi.

“Banyak bacoooood!”

Qi langsung meluncur dengan tendangan terbang.

“YAAAAAAH!”

Namun…

SWOOOSH!

Memet menghilang dari hadapannya.

“Hah?!”

Tendangan Qi menghantam aspal.

DUAAAR!

Aspal retak.

Memet sudah berada di belakangnya.

“Gagal!”

BRAAAK!

Qi dipukul hingga terpental.

"Gila... cepat banget..." gumam Qi.

Qi mengepakkan sayapnya.

FWOOOSH!

Ia melesat ke langit.

Memet langsung mengejar.

“Hihihihihi! Kabur ya?!”

Kecepatan Monster Lalat Ijo benar-benar mengerikan.

Setiap kali Qi mencoba menjauh, Memet selalu muncul di sampingnya.

Kadang di kiri.

Kadang di kanan.

Kadang bahkan di belakang.

"Kok kayak nyamuk pas mau tidur sih!" teriak Qi kesal.

BRAK!

Memet menendang punggungnya.

Qi kehilangan keseimbangan.

“AAAAAH!”

Tubuhnya jatuh ke tanah.

DUUUUK!

Qi menghantam tanah dan berguling beberapa meter.

Armor hitam emasnya mulai mengeluarkan percikan cahaya.

Napasnya berat.

“Hosh... hosh...”

Tiba-tiba suara Zedi terdengar.

“Karman!”

“Zedi?”

“Tenaga Kamen Rider Qi itu terbatas.”

“Hah?”

“Kau terlalu banyak menggunakan kemampuan terbang.”

Qi mulai panik.

“Jadi?”

“Di sabukmu ada Raw Honey.”

Qi melihat ke arah sabuknya.

Benar saja.

Ada kapsul kecil berwarna emas.

“Itu cadangan energi murni.”

“Kenapa baru bilang?!”

“Kau juga baru kehabisan tenaga.”

“Oh iya juga.”

“Kau hanya memiliki satu Raw Honey dalam setiap pertarungan.”

“Satu doang?”

“Raw Honey itu sangat sulit didapat. Karena itu gunakan dengan bijak.”

Qi mengambil kapsul itu.

Lalu meminumnya.

Cahaya emas langsung menyelimuti tubuhnya.

FWOOOOSH!

Energinya pulih.

“Wah! Segar lagi!”

Memet turun dari langit.

“Hihihihi! Udah capek? Kacian Kamen Rider kecapean ya?”

Qi berdiri.

“Belum.”

Ia menyentuh sabuknya.

“HONEY SWORD READY!”

Pedang Madu keluar dari samping sabuk.

Qi menggenggamnya.

“Kali ini selesai.”

Memet tertawa.

“Hihihihi! Coba aja!”

Qi menyerang.

SWISH!

SWISH!

SWISH!

Namun Memet terlalu cepat.

Setiap tebasan meleset.

“Di sini!”

SWOOOSH!

Memet muncul di belakang.

“Di sana!”

SWOOOSH!

Memet berpindah lagi.

Qi mulai kesal.

“Susah banget dipukul! Dasar laler!”

Saat berlari menghindari serangan, Qi melihat sesuatu di kejauhan.

Sebuah perkebunan karet.

Ratusan pohon karet berdiri rapat.

Mata Qi berbinar.

“Aku punya ide.”

Qi langsung terbang menuju perkebunan.

Memet mengejar.

“Hihihihi! Kabur lagi!”

Qi sengaja melambat.

“Ayo kejar!”

“Tenang! Gua pasti nangkep loe!”

Memet melesat semakin cepat.

Saat memasuki perkebunan, Qi mengayunkan Pedang Madu.

SWAAASH!

Beberapa batang pohon karet tersayat.

Getah putih langsung mengalir deras.

Memet tidak memperhatikan.

Ia terlalu fokus mengejar Qi.

“Hihihihi!”

Qi tiba-tiba berbelok tajam.

Memet mengikuti.

Dan…

PLAAAK!

Tubuhnya menabrak getah karet yang lengket.

“Hah?”

PLAAK!

PLAAK!

PLAAK!

Sayapnya menempel.

Tangannya menempel.

Kakinya menempel.

“Apa ini?!”

Ia mencoba bergerak.

Namun semakin bergerak semakin lengket.

“Tolong! Gua dilem!”

Qi mendarat di depannya.

“Bukan dilem.”

Qi menunjuk pohon.

“Itu getah karet.”

Memet panik.

“Lah curang!”

Qi mengangkat Pedang Madu.

Cahaya emas memenuhi bilahnya.

“HONEY SLASH!”

ZRAAAASH!

Gelombang energi emas meluncur.

Mengenai tubuh Monster Lalat Ijo.

“TIDAAAAAAK!”

BOOOOOOOOM!

Ledakan cahaya kuning memenuhi perkebunan.

Setelah Pertarungan

Asap perlahan menghilang.

Qi berdiri sambil menancapkan pedangnya ke tanah.

“Hosh...”

Dari kejauhan warga bersorak.

“Kamen Rider Qi menang!”

“Hebat!”

Qi tersenyum.

“Kadang kekuatan saja tidak cukup.”

Suara Zedi terdengar.

“Benar.”

“Kau menang karena menggunakan akal.”

Di angkasa, dari dalam Kapal Induk Marlon, Jenderal Zodar menatap layar dengan wajah kesal.

“Lagi-lagi gagal...”

"Profesor Xefix! Buatkan lagi Monster yang lebih kuaaaat!" Jenderal Zodar tampak sangat kesal. 

Sementara Putri Zizaz tersenyum tipis.

“Kamen Rider Qi... Aku mulai tertarik padamu.”

Bersambung…